Sisi lain kuliah di Thailand

SAM_3334

Suasana di kelas menjelang ujian

Hai, saya Junda. Saya mahasiswa semester 4 di Chulalongkorn University, Thailand. Bersyukur rasanya bisa melanjutkan sekolah di luar negeri, yang merupakan cita-cita saya sejak di bangku SMA. Di sini, banyak hal yang bisa kita pelajari, tidak sekadar menimba ilmu. Jauh dari itu, pengalaman hidup, membangun kerjasama, dan berkenalan dengan teman baru dari negara yang berbeda, merupakan hal yang tidak ternilai harganya bagi saya.

Ada banyak hal yang sudah saya lalui mulai dari semester 1, saat masih ‘labil’ layaknya ‘abege‘ dan memupuk keyakinan “apakah saya mampu mengikuti pelajaran di sini?”. Maklum saja, meskipun saya mengambil program studi yang sama dengan prodi saat saya S1, saya belajar dengan fokus studi yang berbeda di sini. Program studi gizi di kampus ini lebih fokus ke gizi klinis, sedangkan saya lebih menyukai gizi masyarakat. Akhirnya dengan dukungan dari teman dan keluarga, saya memantapkan diri untuk melanjutkan kuliah di sini.

Semester 1 merupakan semester yang penuh tantangan bagi saya karena harus banyak beradaptasi dengan lingkungan sosial, termasuk makanan dan bahasa. Di Thailand, ciri khas rasa makanannya adalah asam dan pedas, sedangkan saya tidak begitu suka pedas dan asam. Lambat laun lidah saya kian menyesuaikan dengan cita rasa khas Thailand, meskipun tidak sepenuhnya menyesuaikan. Masih banyak masakan khas Thailand yang saya tidak berani untuk mencobanya. Satu tantangan lagi, terutama untuk muslim, makanan di Thailand banyak yang mengandung babi. Sebaiknya kita berhati-hati dalam memilih makanan, baca label pangan terlebih dahulu untuk lebih pastinya. Saya sangat terbantu dengan keberadaan kantin halal yang tersedia di hampir setiap fakultas di kampus ini. Walaupun Islam merupakan agama minoritas di sini, tetapi mereka tetap menyediakan kantin halal dan beberapa musholla di beberapa fakultas.

Language gap, merupakan barrier yang sangat sulit bagi saya ketika berada di luar kampus. Saya hanya bisa sedikit bahasa Thailand dan hal yang paling sulit menurut saya adalah cara pengucapannya. Bahasa Thailand memiliki 5 intonasi nada, berbeda intonasi memiliki arti yang berbeda pula. Contohnya kata “glai” yang berarti “jauh” dan kata “glȃi” yang berarti “dekat”. Bahasa Thailand memang unik, tetapi seandainya kamu bisa bahasa Thailand, hal itu pasti akan sangat bermanfaat terlebih lagi kita tengah memasuki ASEAN Economic Community. Permasalahan mengenai language gap tidak berhenti di situ. Pernah suatu ketika saya mencoba menggunakan bahasa Thai untuk menanyakan makanan di kantin, “Pee ka, anni alay ka? (Mbak, ini apa?)”, tanya saya sambil menunjuk ke arah gorengan yang terlihat menarik di etalase kantin. “Anni het ja, au mai?”, saya langsung bengong mendengar jawaban dari mbak-mbak kantin tersebut. Tanpa tahu arti dari jawaban mbak tersebut, saya menganggukan kepala memberikan arti saya mau makanan tersebut. Setelah saya makan, baru saya mengerti bahwa “het” berarti jamur. Okay then, I got new vocab!

PPI Thailand alias Permitha memberikan pencerahan bagi teman-teman yang senasib dengan saya. Setiap tahunnya, Permitha mengadakan English class dan Thai Class. Saya mengikuti kedua kegiatan tersebut tahun kemarin. Meskipun banyak yang saya masih kurang pahami tentang bahasa Thai, tetapi setidaknya sudah ada kemajuan lah sedikit. hehe.Semoga setelah saya lulus nanti, saya sudah cakap dalam berbahasa Thai dan masak makanan khas Thai 🙂

 

2015314170210

Make friends with others

IMG_20150531_113201

Make friends with others (2)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s